Friday, April 25, 2003
Kini kumasuk ke sebuah negeri kaca
Negeri semu yang berlangit merah jambu
Di negeri ini aku berjalan tanpa jam tangan
ataupun kompas
Sehingga langkahku salah arah, kakiku
Tersandung, bahkan aku terperosok ke dalam lubang biru yang kecil tapi dalam
Tapi ketika aku merintih terjatuh, tangan putih nan lembut membantuku keluar, Ia memberiku ketenangan dan keyakinan bahwa aku dapat melanjutkan perjalanan
Sampai pada suatu saat aku harus menembus kaca dan datang ke suatu tempat yang bertelaga dan mengalir sungai – sungai di bawahnya atau ke tempat dimana terdengar tertawaan mengejak, mencemooh dan tangisan memilukan…
Ingin aku memasangkan gelang di tangan ituTapi, Ia telah berjalan mendahuluiku
Ah…mungkin nanti dapat kukejar dan akhirnya kami dapat bersama
Negeri semu yang berlangit merah jambu
Di negeri ini aku berjalan tanpa jam tangan
ataupun kompas
Sehingga langkahku salah arah, kakiku
Tersandung, bahkan aku terperosok ke dalam lubang biru yang kecil tapi dalam
Tapi ketika aku merintih terjatuh, tangan putih nan lembut membantuku keluar, Ia memberiku ketenangan dan keyakinan bahwa aku dapat melanjutkan perjalanan
Sampai pada suatu saat aku harus menembus kaca dan datang ke suatu tempat yang bertelaga dan mengalir sungai – sungai di bawahnya atau ke tempat dimana terdengar tertawaan mengejak, mencemooh dan tangisan memilukan…
Ingin aku memasangkan gelang di tangan ituTapi, Ia telah berjalan mendahuluiku
Ah…mungkin nanti dapat kukejar dan akhirnya kami dapat bersama
Suka dan Duka
Lalu seorang wanita bicara,
Menanyakan masalah Suka dan Duka.
Yang dijawabnya:
Sukacita adalah Dukacita,
Yang terbuka kedoknya.
Dari sumber yang sama, yang melahirkan tawa,
Betapa seringnya mengalir air mata.
Dan bagaimana mungkin
Terjadi yang lain?
Semakin dalam sang duka
Menggoreskan luka
Ke dalam sukma,
Maka semakin mampu
Sang kalbu
Mewadahi bahagia.
Bukankah piala minuman,
Pernah menjalani pembakaran,
Ketika berada dalam pembuatan?
Dahulu bukankah seruling penghibur insan,
Sebilah kayu yang pernah dikerati,
Tatkala dia dalam pembikinan?
Pabila engkau sedang bergembira,
Mengacalah dalam-dalam ke lubuk hati,
Di sanalah nanti engkau dapati,
Bahwa hanya yang pernah membuat derita,
Berkemampuan memberimu bahagia.
Pabila engkau berdukacita,
Mengacalah lagi ke lubuk hati,
Di sanalah pula kau bakal menemui,
Bahwa sesungguhnyalah engkau sedang menangisi,
Sesuatu yang pernah engkau syukuri.
Di antara kalian ada yang mengatakan:
"Sukacita itu lebih besar dari dukacita."
Yang lain pula berpandangan:
"Tidak, Dukalah yang lebih besar dari Suka."
Tetapi aku berkata kepadamu:
Bahwa keduanya tak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu
Sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain
Sedang ternyenyak di pembaringanmu.
Sebenarnyalah engkau ditempatkan
Tepat di tengah timbangan, yang adil.
Menengahi Kegembiraan dan Kesedihan.
Hanya pabila engkau sedang hampa,
Kau diam tak gerak, dan seimbanglah takaran.
Ketika Sang Bendahara berkenan mengangkatmu,
Untuk menguji berat emas-perak di pinggan,
Di saat itulah Kesukaan dan Kedukaan timbul-tenggelam.
(Dikutip dari Sang Nabi,
Pustaka Jaya, Jakarta, 1993, hal. 39—41)
Hal ini senada dengan FIrman Allah Dalam Al-Qur'an
Surat Alam Nasyrah ayat : 5-6
"Karena sesunggungnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesunggunhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan".
Artinya kita tidak akan pernah merasakan mudah
jika belum pernah merasakan yg namanya kesusahan
Begitupun dengan suka, duka, bahagia, pahit.
Yang merupakan sunnatullah yang pasti ada di bumi ini
dan takkan pernah sirna.
Jadi Begitulah Maha Adilnya Allah
telah menjadikan sifat di bumi ini berpasang-pasangan.
Sama Halnya dengan insan Allah dengan Maha Adilnya itu
menjodoh-jodohkan yang dikehendakiNya.
Subhanallah !!!
Lalu seorang wanita bicara,
Menanyakan masalah Suka dan Duka.
Yang dijawabnya:
Sukacita adalah Dukacita,
Yang terbuka kedoknya.
Dari sumber yang sama, yang melahirkan tawa,
Betapa seringnya mengalir air mata.
Dan bagaimana mungkin
Terjadi yang lain?
Semakin dalam sang duka
Menggoreskan luka
Ke dalam sukma,
Maka semakin mampu
Sang kalbu
Mewadahi bahagia.
Bukankah piala minuman,
Pernah menjalani pembakaran,
Ketika berada dalam pembuatan?
Dahulu bukankah seruling penghibur insan,
Sebilah kayu yang pernah dikerati,
Tatkala dia dalam pembikinan?
Pabila engkau sedang bergembira,
Mengacalah dalam-dalam ke lubuk hati,
Di sanalah nanti engkau dapati,
Bahwa hanya yang pernah membuat derita,
Berkemampuan memberimu bahagia.
Pabila engkau berdukacita,
Mengacalah lagi ke lubuk hati,
Di sanalah pula kau bakal menemui,
Bahwa sesungguhnyalah engkau sedang menangisi,
Sesuatu yang pernah engkau syukuri.
Di antara kalian ada yang mengatakan:
"Sukacita itu lebih besar dari dukacita."
Yang lain pula berpandangan:
"Tidak, Dukalah yang lebih besar dari Suka."
Tetapi aku berkata kepadamu:
Bahwa keduanya tak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu
Sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain
Sedang ternyenyak di pembaringanmu.
Sebenarnyalah engkau ditempatkan
Tepat di tengah timbangan, yang adil.
Menengahi Kegembiraan dan Kesedihan.
Hanya pabila engkau sedang hampa,
Kau diam tak gerak, dan seimbanglah takaran.
Ketika Sang Bendahara berkenan mengangkatmu,
Untuk menguji berat emas-perak di pinggan,
Di saat itulah Kesukaan dan Kedukaan timbul-tenggelam.
(Dikutip dari Sang Nabi,
Pustaka Jaya, Jakarta, 1993, hal. 39—41)
Hal ini senada dengan FIrman Allah Dalam Al-Qur'an
Surat Alam Nasyrah ayat : 5-6
"Karena sesunggungnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesunggunhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan".
Artinya kita tidak akan pernah merasakan mudah
jika belum pernah merasakan yg namanya kesusahan
Begitupun dengan suka, duka, bahagia, pahit.
Yang merupakan sunnatullah yang pasti ada di bumi ini
dan takkan pernah sirna.
Jadi Begitulah Maha Adilnya Allah
telah menjadikan sifat di bumi ini berpasang-pasangan.
Sama Halnya dengan insan Allah dengan Maha Adilnya itu
menjodoh-jodohkan yang dikehendakiNya.
Subhanallah !!!